Skip to main content

#1 Cleared

" hey yun, gue Mau nanya sesuatu. "

40 menit sudah pesan itu terkirim. Belum ada tulisan kecil yang muncul di bawahnya, pertanda pesan itu belum dibaca.
Dan di sinilah gue, sedang mengerjakan  tumpukan tugas kantor gue, sambil sesekali melirik ke layar handphone yang masih diam tanpa jawaban.
Gue berusa keras mengumpulkan konsentrasi untuk mengerjakan proposal ini yang sudah selesai setengah jalan. Tapi kayaknya  hal itu sulit gue lakukan. Kursor dilayar cuma hanya berkedip tak bergerak.
Pikiran gue masih saja tertuju pada sebuah pesan yang gue kirimkan.

Dengan perlahan, gue meraih handphone yang terletak di atas meja, layar hitamnya masih gelap tanpa ada pesan baru.

Mugkin saat-saat seperti itulah saat-saat yang paling menyebalkan bagi seorang pria, rasa penasaran dan gelisah dan gugup jadi satu.

Ya, tanpa disadari otak memulai untuk menyusun skenario-skenarionya sendiri.
Jika jawabannya 'ya', maka apa yang gue harus lakukan? kemana gue harus mengajaknya? apakah itu akan terasa berbeda dari yang lainnya ?

Tapi di sisi lain bagaimana jika jawabannya 'tidak'? Apakah gue akan mencoba mengajaknya lagi ? atau aku akan sadar diri dan menikmati patah hati ini sendirian ?

Entahlah,  MUNGKIN  beberapa menit kemudian gue akan mengetahui jawabanya.

Sebuah notifikasi berbunyi dan membuyarkan lamunan gue, Layar handphone yang tadinya hitam, kini dihiasi notifikasi sederhana. Tanpa membuang waktu gue langsung membuka pesan yang masuk.

" Memangnya apa yang Ada dipikiranmu? "
" Aku Mau ajak kamu ketempat favorite aku di Kendari. " ketikku dengan cepat.
Tak lama sebuah pesan masuk.
" Oya, di mana ? "
" secret dong, I'll show you later. " balasku
" menarik sih. Tapi aku gak bisa "
Kepala gue sekarang serasa ditonjok.
Jari-jariku kembali mengetik sebuah kalimat tanpa diperintah...
    " Aku bahkan belum bilang kapan..."
    " Hehehe.. "
Kalimat itu lalu ditutup dengan sebuah sticker sederhana.

Dan disitu, aku tahu di mana posisi gue,
Ini gak akan kemana-mana..
Pertanyaan-pertanyaan yang tadi berkeliaran dikepala, kini gue sudah tahu jawabannya.
No answer is also an answer
Pesan itu gak gue balas lagi, gue merebahkan badan di atas tempat tidur dan melemparkan handphone itu ke pojok tempat tidur.


" Ketertarikan itu adalah Hal yang sederhana, dimana itu Ada, atau tidak. "
Dan itu terlihat gak ada di sana ( yet? )
Tapi bagaimanapun sekarang gue tahu di mana posisi gue. Perlahan , ada sebuah perasaan tidak nyaman menyelundup masuk.

Pikiranku melayang ke beberapa waktu lalu, di mana percakapan yang terasa nyaman itu mengalir tanpa ada paksaan. Pesan yang bertukar tanpa jeda.
Saat-saat yang meyakinkanku bahwa "ketertarikan" itu ada di sana.
Namun, entahlah.
Gue pun meraih handphone yang tadi aku lemparkan. Setelah selesai membaca ulang semua pesannya, gue menekan namanya dilayar agak lama.
REMOVE ?
CONFIRM TO  CLEAR?
YES   I   NO
Jari gue menekan ke kiri.

Cleared.

Gue rasa , ketertarikan itu sudah pudar.

Gue pun bangkit sambil menarik nafas panjang. Berusaha mengisi rasa tidak nyaman  yang mulai gue rasakan
Sepertinya otakku sudah mengirimkan sinyal-sinyal kehati untuk mulai meremukkan dirinya sendiri.

Comments

My Popular Post !

Dulu, ada.

Awan gelap Menyelimuti indahnya mentari Butiran air dari langit mulai berjatuhan Deras, makin deras... Dingin perlahan menerobos tulang Khayalan mulai menerawang jauh Dulu, Ada sebuah hati yang kuat Hati yang tetap lelap oleh pekatnya malam Hati yang  tegar oleh Jalan-jalan yang sunyi Hati yang tidak goyah dari sekedar kesepian Hati yang tidak peduli oleh cuitan ratusan manusia. Ya, kembali teringat dulu, ada.