Gelap mengingatkanku kalau aku harus bersyukur diberi kulit berwarna coklat. Mendidikku untuk tidak semerta-merta meminta dan melakukan operasi plastik. Orang Negro dulu sering dijadikan budak dan dianggap rendah. Biadab memang. Tapi nyatanya? Sekarang orang hitam dielu-elukan karena jadi presiden, seorang rapper terkenal, penyanyi dengan oktaf tinggi, dan lainnya.
Gelap menegurku kalau ternyata ada lagi yang lebih hitam daripada kamar tidurku: kuburan. Tempat peristirahatan terakhirku.
Gelap membuka mataku kalau aku sebenarnya pengecut dan sering diliputi rasa takut. Sehingga gelap adalah cara yang amat ampuh untuk mendekatkanku pada Tuhan.
Gelap membuatku percaya kalau penderitaan itu belum selesai. Semua akan berujung dan berakhir indah kalau sudah menemukan titik terangnya.
Gelap mengajarkanku untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Dalam terang, aku mampu melihat semuanya. Seharusnya aku juga bisa melihat dalam gelap dengan mata batinku. Sehingga binatang kecil dan makhluk gaib tidak menghantui otakku.
Gelap menyuruhku untuk jadi bijak dan diam sejenak, kemudian rileks dan beristirahat. Jika terang membuat semua kemungkinan terjadi, ada kalanya gelap membuat semua kemungkinan itu tertutup sehingga aku sebagai manusia, harus lebih santai dan pasrah menghadapi hidup. Tidak terlalu memikirkan semua kemungkinan beserta risikonya.
Gelap mengharuskanku untuk sabar menunggu. Bahkan ketika aku mengedipkan mata selama sepersekian detik, aku harus menungggu selama sepersekian detik untuk melihat kembali cahaya yang terpancar.
Gelap meyakinkanku kalau nyatanya nanti aku akan sendiri. Terlepas orangtua, gadget, pacar, suami, saudara.
Gelap mengharuskanku untuk lebih giat mencari sinar dalam dinginnya kelam.
Gelap menegurku kalau ternyata ada lagi yang lebih hitam daripada kamar tidurku: kuburan. Tempat peristirahatan terakhirku.
Gelap membuka mataku kalau aku sebenarnya pengecut dan sering diliputi rasa takut. Sehingga gelap adalah cara yang amat ampuh untuk mendekatkanku pada Tuhan.
Gelap membuatku percaya kalau penderitaan itu belum selesai. Semua akan berujung dan berakhir indah kalau sudah menemukan titik terangnya.
Gelap mengajarkanku untuk tidak berpikir yang aneh-aneh. Dalam terang, aku mampu melihat semuanya. Seharusnya aku juga bisa melihat dalam gelap dengan mata batinku. Sehingga binatang kecil dan makhluk gaib tidak menghantui otakku.
Gelap menyuruhku untuk jadi bijak dan diam sejenak, kemudian rileks dan beristirahat. Jika terang membuat semua kemungkinan terjadi, ada kalanya gelap membuat semua kemungkinan itu tertutup sehingga aku sebagai manusia, harus lebih santai dan pasrah menghadapi hidup. Tidak terlalu memikirkan semua kemungkinan beserta risikonya.
Gelap mengharuskanku untuk sabar menunggu. Bahkan ketika aku mengedipkan mata selama sepersekian detik, aku harus menungggu selama sepersekian detik untuk melihat kembali cahaya yang terpancar.
Gelap meyakinkanku kalau nyatanya nanti aku akan sendiri. Terlepas orangtua, gadget, pacar, suami, saudara.
Gelap mengharuskanku untuk lebih giat mencari sinar dalam dinginnya kelam.
Comments
Post a Comment